Selasa, 04 Juni 2013

BUMN zaman orde baru banyak dipimpin birokrat dan jendral

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan siang ini, Selasa (4/6) menghadiri bedah buku 'Antara Pasar dan Politik: BUMN di bawah Dahlan Iskan'. Buku ini adalah karya Fachry Ali dan R.J Lino (Direktur Utama Pelindo II). Penerbitan buku ini bekerjasama dengan Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha (LSPEU) Indonesia.


Ekonom Dawam Rahardjo, salah seorang pembedah buku tersebut, bercerita mengenai kepemimpinan BUMN dari orde baru hingga sekarang dipimpin Dahlan Iskan. Pada masa orde baru, BUMN memang sudah mulai maju tapi masih dipimpin birokrat dan jenderal.

"Perusahaan besar seharusnya dipimpin oleh orang profesional sehingga terjadi profesionalisme. Walaupun mereka (pimpinan BUMN birokrat dan jendral) ada yang berhasil," ucap Dawam dalam bedah buku, di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, Selasa (4/6).

Dia mengakui, ketika perusahaan pelat merah dipimpin oleh banyak orang politik dan jenderal cenderung atau berpotensi di politisasi. "Banyak perusahaan dipimpin oleh jenderal-jenderal dan berpotensi politik terhadap BUMN," jelasnya.

Dalam membedah buku ini, Dawam menyebutkan beberapa stigma mengenai perusahaan BUMN. Stigma pertama adalah ketika adanya isu nasionalisme yang kemudian BUMN dipimpin oleh birokrat dan militer.

Banyak stigma atau pendapat negatif mengatakan jika perusahaan dipimpin oleh birokrat dan jenderal maka perusahaan tidak akan menjadi profesional.

"Ada stigma mengatakan jika dipimpin birokrat dan militer dan produksi akan menurunkan langsung produksi. BUMN tidak bisa jadi unit bisnis karena didukung orang yang bukan profesinya," jelasnya.

Stigma selanjutnya mengenai kepemimpinan BUMN adalah menyebutkan kalau BUMN itu akan gagal jika mengalami birokratisasi. Kapitalisasi para birokrat akan menghancurkan perusahaan itu sendiri.

"Kemudian, BUMN akan menjadi suatu kendaraan politik. Banyak stigma mengenai BUMN. Pimpinan BUMN susah mengambil keputusan. BUMN hanya akan menjadi politik dan lembaga sosial bukan jadi perusahaan," tutupnya.

Dalam buku tersebut, sosok Dahlan disebut sangat fenomenal dan seorang tokoh swasta yang bertekad melaksanakan reformasi BUMN dengan cara demonstratif dan membuat sejarah, tradisi kerja BUMN dan dunia politik yang berlangsung dinamis.

Dahlan disebut bagian dari the authorized power structure, Dahlan membawa wewenang yang diperolehnya dari authorized power ke dalam lapangan. Hal ini menimbulkan gejolak politis seperti pertentangan Dahlan dengan DPR.

"Dahlan menemukan tempat khusus dalam the politics of public stage. Inilah landasan atau pijakan yang diciptakan oleh aktor media masa," jelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar